Rasa Ke-“Sosial”-an di Jakarta Part Two

Juni 14, 2008

Kali ini sih gak pake minum Teh Botol…he2x..seperti kejadian kapan dulu..

Rasa sosial ini terjadi di lingkungan aku tinggal, di daerah kwitang. Kalo anda pernah lewat, pasti tahu gimana daerah kwitang itu…masih betawi, banget…

..

Satu sisi, deket lingkungan orang2 arab yang sering mengadakan pengajian di hari minggu di lingkungan kwitang…ada pasar kagetnya lo disana… On other side, preman2 juga banyak disini…tapi, yang membuat aku takjub adalah kejadian hari minggu pagi tgl 8 juni 2008..

..

Pas lagi asik2nya makan nasi uduk sebelah rumah, eh ada rame2…orang2 pada teriak2..aku kira ada apa…ternyata ada orang seumuran kurang lebih 16 tahunan…dipegangin kerah baju nya ..ada sekitar 3 orang yang memegang dia…dibelakang dia, ternyata da puluhan orang mengikutinnya…

..

Dan ternyata orang tersebut, diamankan di masjid dekat rumah.. Aku kira Munawarman, itu lo orang dari FPI yang dicari2 Polisi kita…eh ternyata bukan..setelah itu datang 2 orang polisi datang kesana…kemudian diikuti 2 orang polisi lagi….dan setelah nego bla2 bla2…dan seterusnya, akhirnya si anak itu langsung digelandang oleh polisi2 itu…dan, seperti dugaan anda, dan seperti perkiraan aku, yang selama ini aku lihat di televise kalo ada maling ketangkap, Masya Allah, anak itu dihajar juga ma orang2 kampung..sampai2 si polisi kewalahan menghadapai amuk massa…

..

Tau kenapa anak itu dihajar? Ternyata, dari info yang aku dapat, nih anak da 2 kali mengambil kotak amal di masjid !…dan ini kejadian ke-2, dan pas yang kedua itu, dia juga mengambil HP pengurus yang lagi di-charge. Masya Allah..

..

Dan yang bikin salut, ternyata orang2 kampung ini da ngincer anak itu. Dikejar2 sampai di stasiun Jatinegara…dan ibu2 di kampung saya, ternyata pada hapal sama anak itu….

Nah,begitu tahu anak ini sampai di stasiun jatinegara, anak itu digelandang ke daerah kwitang..dan akhirnya, ya begitu lah…seperti and abaca di atas…

..

Nah, masih ada,kan rasa sosial di Jakarta? ..masih kok…yuk, minum teh botol….yuuukk…

..

Piss.


Rasa Ke-“Sosial”-an di Jakarta Part One

Juni 14, 2008

Tau sendiri,kan gimana rasa ke-“Sosial”-an dijakarta…dimana, most atau kebanyakan sih masih individu…lu lu..gw gw…itu berdasarkan pengalaman aku lo yang da dari akhir tahun 2002 menetap di Jakarta…eh, gak terasa da hampir 6 tahun di Jakarta dengan segala kelebihan dan kekurangan…..eh, keliru..terasa banget sih dijakarta, abis tiap tahun pas puasa, pasti antri tiket mudik..hiks hiks…bangun subuh, loket tiket baru buka jam 7 pagi…pas antri 5 menit tiket dibilang abis…gimana gak sebel…

..

Balik lagi ke rasa sosial…ternyata anggapan itu gak 100% benar…

Waktu itu aku mau ke markas atau butik nya Audy – one of diva in Indonesia , selain ocha tentunya he2x-. Di deket perempatan Casablanca, itu lo yang dari saharjo mau ke pancoran, deket hotel harris tebet, ada kejadian tabrakan sepeda motor…bukan tabrakan sih….apa ya…dari arah selatan, pas putar balik, ada sepeda motor belok ke arah selatan/balik kea rah pancoran. Nah, waktu belok itu, motor itu hampir menabrak motor yang dikendarai bapak2 yang membonceng istri dan anaknya…jadi, dari arah utara, motor bapak itu juga melaju kencang…mas2 yang mau belok itu, juga tidak melihat ada motor dari arah utara. Tau kenapa? Standar Jakarta lah…disamping kiri metromini, dengan segala kemacetan di Jakarta, pasti banyak motor yang pingin jalan cepet2 disamping metromini. .Nah pas 2-2 nya ketemu, mas2 itu berhasil selamat dari “ciuman” motor bapak2…tp, ternyata efeknya..bapak itu tidak menguasai kendaraannya…alhasil, kendaraan itu oleng da jatuh kea rah kanan dia..ibu yang digonceng, jatuh duluan ke arah kiri, maunya sih narik anaknya, tp dia da jatuh duluan, sedang bapak dan anak kecil-kurang lebih 5-6 tahun usianya- , jatuh bersama sepeda motornya. Dan 2-2nya jatuh dibawah sepeda motor…gak kebayang gimana rasa sakit waktu itu…so, berhentilah semua kendaraan tersebut…sedang aku sendiri pas banget di belakang bapak2 itu. Begitu tahu ada tabrakan di depan, untungnya juga metromini samping aku langsung berhenti – khas orang jawa, untung…he2x…- langsung aku ambil posisi kanan melewati bapak2 yang jatuh. Maunya sih, ngejar mas2 itu…tp setelah dipikir2..kalo iya mau dia turun, kalo dia terus kabur…..gimana,coba?..eh pas aku mau kejar..mas2 itu ternyata langsung berhenti di pinggir jalan, aku langsung juga parker di depan dia. Pas aku liat ke belakang, ternyata dia gentle juga. Salute buat dia. Dia langsung parkirin motornya, dan lari menolong bapak itu dan anaknya bersama orang2 sekitar itu. Aku selintas sih, kayaknya dia keturunan. Alhamdulillah, ternyata masih ada orang seperti dia di Jakarta. Setidak2nya sih, dia mau tanggung jawab dengan menolong bapak2 itu tadi..atau juga, siapa tahu dia juga mengalami kecelakaan dan dia ditolong oleh orang yang menabrak dia…

..

Pelajaran yang bias dipetik, yakni…hati2lah jika anda mengendarai kendaraan, apapun keadaannya, tetep perhatikan lingkungan sekitar…dan yang terpenting, perbanyaknya menolong orang. Dengan menolong orangpun, anda sudah menabung “kebaikan” yang entah kapanpun ada butuh, Yang Di Atas pasti tahu kapan Dia mau kasih kebutuhan kalian…

..

Abis itu, ya udah..aku langsung nerusin perjalanan ke tempat butik na ody…sebelumnya, abis liat orang itu menolong, cari minum dulu,coy..abis tadi masih kaget liat kejadian itu…dan emang tiada duanya…apapun kejadiannya, teh botol minumannya… J

..

piss


Semakin Diberi “Air”, Semakin “Haus”

Januari 21, 2008
Kompas 21 Januari 2008

<!–

Artikel dari:

–>

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Sejumlah anggota DPR yang telah berakhir masa kerjanya berpose bersama untuk diambil gambarnya di tangga utama Gedung DPR, Jakarta.
Artikel Terkait:
Senin, 21 Januari 2008 | 09:04 WIB

“Dulu modal saya untuk jadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat itu Rp 187 juta. Enam bulan pertama sudah BEP, break even point.”

Sembari makan siang di kantin, seorang anggota Dewan menceritakan pengalamannya secara blak-blakan kepada wartawan.

Dia juga menceritakan bagaimana praktik-praktik politik uang yang terjadi di DPR yang tidak bisa diceritakan dalam tulisan ini.

Karena itu, dia termasuk yang tidak setuju dengan berbagai kebijakan anggaran di DPR yang arahnya terus menguras uang negara demi mempertebal ”kantong” anggota Dewan. Dia merasa berbagai fasilitas yang selama ini dia terima sudah lebih dari cukup.

Pemberian insentif legislasi Rp 1 juta ke semua anggota Dewan yang tidak terlibat dalam pembahasan setiap kali pengesahan rancangan undang-undang, menurut dia, salah satu kebijakan yang tidak tepat.

Dua tahun terakhir

Seorang anggota Dewan lain secara blak-blakan menunjukkan seluruh catatan penghasilan yang dia terima dari negara selama dua tahun terakhir.

Dari catatan itu diketahui, penerimaan anggota DPR terbagi menjadi tiga kategori. Ada yang bersifat rutin bulanan, ada yang rutin nonbulanan, dan ada juga yang sesekali.

Yang sifatnya rutin bulanan adalah gaji paket Rp 15.510.00; bantuan listrik Rp 5.496.000; tunjangan aspirasi Rp 7,2 juta; tunjangan kehormatan Rp 3,15 juta; tunjangan komunikasi intensif Rp 12 juta; dan tunjangan pengawasan Rp 2,1 juta. Total berjumlah Rp 46,1 juta per bulan. Jadi, setahun mencapai lebih dari setengah miliar, Rp 554 juta. ”Pendapatan bulanan ini semua anggota DPR sama,” katanya.

Penerimaan nonbulanan banyak jenisnya, mulai dari penerimaan gaji ke-13 setiap Juni Rp 16,4 juta dan dana penyerapan aspirasi setiap masa reses Rp 31,5 juta. Dalam satu tahun sidang ada empat kali masa reses. Ada juga dana perjalanan dinas komisi, perjalanan dinas ke luar negeri, atau perjalanan dinas saat reses. Total keseluruhan dalam setahun sekitar Rp 188 juta.

Sementara itu, penghasilan yang sifatnya sewaktu-waktu adalah insentif pembahasan rancangan undang-undang dan honor melakukan uji kelayakan dan kepatutan yang besarnya Rp 5 juta per kegiatan.

Dengan adanya kebijakan baru berupa uang insentif legislasi Rp 1 juta per-RUU, semakin menambah lagi pemasukan anggota DPR. Uang insentif legislasi yang dia terima Rp 39,7 juta.

Apabila keseluruhan penerimaan negara itu dihitung, total uang yang diterima seorang anggota DPR dalam setahun hampir Rp 1 miliar. Sebagai anggota DPR yang tidak terlalu aktif saja, selama tahun 2006, dia menerima Rp 761,3 juta, sedangkan tahun 2007 Rp 787, 1 juta.

Anggota Dewan yang merangkap anggota badan selain komisi juga mendapat tunjangan khusus. Demikian pula anggota yang merangkap pimpinan alat kelengkapan, banyak melakukan studi banding ke luar negeri, memimpin panitia-panitia khusus pembahasan RUU, serta menjadi pimpinan fraksi, atau pimpinan DPR.

Dengan uang yang diberikan negara itu, dia yakin semua anggota DPR bisa menjadi profesional, independen, dan bersungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi rakyat.

Namun, kalau ditanya soal cukup, menurut dia, setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda.

”Ibarat minum air, ada yang merasa cukup, ada juga yang malah semakin haus,” ucapnya sambil tertawa.

Idealisme 550 anggota DPR yang duduk di Senayan memang beragam. Mereka tidak bisa begitu saja digeneralisasi. Terkait pemberian insentif legislasi Rp 1 juta saja, misalnya, ada fraksi yang menolak dan ada fraksi yang menerima dengan sejumlah alasan.

Anggota yang memiliki idealisme seperti tadi sesungguhnya tak hanya satu, dua. Namun, karena jumlahnya kalah banyak, suara mereka sering kali tertelan. Seorang anggota Dewan yang dulu bergelut di dunia akademisi dan sekarang terjun ke politik praktis malah mengaku sempat juga terkena getahnya. Saat dia ke kampus, rekannya menyesalkan dirinya terjun ke dunia politik praktis karena menjadi ikut ”kotor”.

Tidak semua kotor

Menilai anggota DPR seluruhnya ”kotor” tentu tak tepat karena pada kenyataannya ada juga yang berusaha untuk ”bersih” di tengah kekeruhan. Yang perlu dilakukan adalah memberikan dukungan kepada mereka yang bersih agar mereka tak tercemar, tetapi malah membawa warna jernih.

DPR yang bersih akan membawa pemerintahan juga menjadi bersih karena salah satu fungsi DPR adalah bidang pengawasan. Anggaran di eksekutif juga beratus-ratus kali lipat anggaran di DPR.

Siapakah anggota DPR yang perlu didukung itu? Tentunya, mereka yang bisa merasakan cukup dan lebih memprioritaskan orang yang kerongkongannya kering karena dahaga. (Sutta Dharmasaputra)

http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.01.21.09045485&channel=&mn=&idx=

nb:

dasar……


Keajaiban Kata-kata Seorang Ibu

Agustus 24, 2007

Jakarta, Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.


Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”. Sayapun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya” Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.” “Memang harganya berapa dok?” Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali suntik.” “Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil”.

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.” “Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak.” jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu.” Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya “Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.” Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter.”

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri “Ibu, I miss you so much.”

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

taken from http://nuks76.multiply.com/journal


Tukul Arwana Yang Fenomenal !

Januari 23, 2007
  • Siapa sekarang yang tidak mengenal seorang Tukul Arwana. Seorang yang nyentrik dengan rambut cepak dan kumis tipis yang tetap dipelihara hingga panjang seperti kumis ikan Arwana. Yup! Saat ini dia menjadi begitu fenomenal sejak menjadi pembawa acara sebuah acara bincang-bincang di Trans7, Empat Mata. Namanya langsung melejit dalam jajaran artis papan atas Indonesia hehe.. Wajahnya dan aksinya yang khas dan banyolannya yang mengalir lancar dan sekenanya pun sekarang menjadi lebih sering muncul dan menghiasi layar kaca.

    Tukul yang sebenarnya memiliki nama asli Rianto ini tiba-tiba menggebrak dunia hiburan tanah air dengan acara bincang-bincang Empat Mata. Acara Empat Mata ini memiliki jargon “Kembali ke Laptop” ini. Memang karena pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada bintang tamu di acara ini semua berasal dari senjata utamanya yaitu sebuah laptop, meskipun sering kali kebingungan saat error dan dia tidak bisa memperbaikinya.

    Namun, dibalik itu semua Tukul alias Reynaldi ini mampu membuktikan bahwa tampang atau fisik bukanlah segalanya. Biarpun tampang ndeso alias kampungan tapi dia mampu membawakan acara ini dengan baik, lewat banyolannya yang quick thinking and quick response dan dengan kepolosannya mampu menggelitik banyak pemirsanya. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan pembawaannya yang ndeso tidak ditutup-tutupi, justru tampil apa adanya dengan rasa percaya diri yang super!!

    Inilah yang membuat Tukul mampu mengkombinasikan acara bincang-bincang dengan humor dan lawakannya yang keluar begitu saja. Kesalahan pengejaan dalam bahasa Inggris dan keluguan seorang Tukul sebagai seorang yang kampungan acap kali muncul dalam acara tersebut, namun inilah yang menjadikan acara ini begitu sangat menarik. Lawakannya terkesan tidak dibuat-buat dan mengalir begitu saja secara alami. Slogan-slogan “Tak sobek-sobek mulutmu”, “Fish to fish”, “Puas, puas??!!”, “Kembali ke laptop” dan yang lainnya mungkin menjadi sangat familiar saat ini di telinga pemirsa Empat Mata.

    Berikut ini kutipan perjalanan seorang Tukul Arwana yang saya ambil dari Wikipedia:

    Tukul Arwana adalah pelawak dari Perbalan Semarang. Pada waktu muda, Tukul sering tampil melucu di panggung tujuh-belas agustusan, dan Tukul pernah mencari nafkah sebagai sopir omprengan di Semarang. Tukul hijrah ke Jakarta atas ajakan temannya Joko Dewo.

    Lontang-lantung di kontrakan di bilangan Blok S Jakarta Selatan Tukul banyak dibantu Joko dewo untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, Tukul menikah dengan gadis berdarah Padang bernama Susi dan mempunyai anak semata wayang, bernama Vita.

    Setelah menikah Tukul dan keluarga tinggal di sebuah kontrakan di daerah Cipete Utara. Sampai akhirnya Tukul melamar kerja di Radio Humor SK dan bekerja di sana bersama rekan pelawak yang lain seperti Bagito, Patrio, Ulfa dan lain-lain.

    Nasib mujur Tukul semakin mengental ketika diajak main Lenong Rumpi oleh Ramon Tommybens. Dan titik balik karir Tukul mencuat ketika menjadi pendamping Joshua di video klip Air dengan icon diobok-obok-nya.

    Nama Tukul Arwana semakin melambung ketika TPI mempercayakannya Tukul menjadi Host acara musik “Aduhai” dan Acara “Dangdut Ria” di Indosiar. Dan namanya kian melesat sekarang ini ketika TV 7 Mempercayakan menjadi Host Talks show “Empat Mata”.

    Jika dulu Tukul tinggal di kontrakan, sekarang Tukul sudah memiliki 3 rumah kontrakan dan 2 rumah besar di Cipete Utara. Di rumahnya Tukul mengumpulkan teman-teman seniman pelawak dari daerah dan membuat markas kecil ajang tukar pikiran dan meramu ide kreatif lawakan. Markas kreatif ini dinamakan Posko Ojo Lali.

  • Taken from http://wartablog.com

Chatting Dengan Aa Soal Poligami

Desember 15, 2006

Aa_online:Assalamualaikum ..

f_rachmanto: Waalaikum salaam?

f_rachmanto: Aa .. lama gak online nih? kemana aja?

Aa_online: Ah ? Aa mah disini aja, Kang Oji kumaha damang?

f_rachmanto: Baik A, kumaha bulan madu? :)

Aa_online: Ah, eta deui, eta deui? hehehe?

f_rachmanto: Sori A, habis kaget nih Aa nikah lagi

Aa_online: Aduh kenapa atuh mesti kaget segala. Kan berpoligami teh diijinkan Allah.

f_rachmanto: Diijinkan lho A, bukan diwajibkan.

Aa_online: Betul. Hukumnya sunnah.

f_rachmanto: Kenapa sih A, nikah lagi?

Aa_online: Aduuh ini lagi pertanyaanya , Kumaha nya ngajawabnya?

f_rachmanto: Apa ada yg kurang dari Teteh?

Aa_online: Wah, insya Allah bukan karena itu, Teteh itu wanita yang sangat luar biasa.

f_rachmanto: Jadi kenapa?

Aa_online: Begini, pernikahan Aa yang kedua ini latar belakangnya ya sama saja dengan alasan orang lain menikah. Kang Oji dulu kenapa menikah?

f_rachmanto: Mmmm…Karena saya dan istri saling cinta, dan pengen hidup bareng membangun keluarga yang sakinah?

Aa_online: Begitu juga Aa dengan pernikahan kedua ini.

f_rachmanto: Tapi Aa kan bisa menyakiti hati Teteh. Apalagi anak-anak Aa. Anak mana sih yang rela Ayahnya nikah lagi.

Aa_online: Yah, saya juga katakan ini bukan keputusan mudah. Saya mohon maaf sama Teteh dan anak-anak saya, jika keputusan ini tidak enak buat mereka. Namun saya juga berharap ini bisa jadi hikmah bagi mereka untuk melatih keikhlasan mereka. Dan alhamdulillah Teteh dan anak-anak dapat menerima ?

f_rachmanto: Maaf nih A, kok tega menyakiti hati orang yang kita cintai?

Aa_online: Sudah tentu saya tidak tega, tapi ?

f_rachmanto: Kalau tidak tega kenapa tetap dilaksanakan?

Aa_online: Begini, karena ada tujuan yang menurut Aa insya Allah baik. Dan Aa yakin keluarga Aa akan dapat ikhlas menerima keputusan Aa.

f_rachmanto: Maaf A, apakah ini untuk kepuasan seks?

Aa_online: Semua pernikahan bukan nya selalu ada aspek seks? Namun seks tentu bukan satu2 nya aspek dan bukan yang paling utama.

Aa_online: Salah satu hikmah pernikahan adalah untuk mencegah manusia dari kerusakan akibat perilaku seks seperti binatang. Kang Oji bisa lihat perilaku saudara-saudara kita dewasa ini yang lama-lama menganggap seks diluar nikah bukan hal terlarang. Ini harus diluruskan?

f_rachmanto: Dengan poligami?

f_rachmanto: Bukan kah nanti jadi nya poligami iya, zina jalan terus ?

Aa_online: Yah kalo masalah zina mah, kalo moral orangnya sudah mengizinkan zina ya bagaimana ya? Tapi ada pandangan juga nih. Barangkali masyarakat kita sekarang juga yang mengkondisikan perzinahan.

f_rachmanto: Maksud Aa?

Aa_online: Yah, masyarakat sekarang kan semakin permisif terhadap hubungan laki-laki dan perempuan, semakin menganggap lembaga keluarga tidak penting, menganggap lembaga pernikahan tidak penting. Sementara namanya dorongan hubungan seks adalah sesuatu yang alamiah dan pasti terjadi. Paham maksud Aa?

f_rachmanto: Rada ngantuk sih A, tapi paham lah.

f_rachmanto: Ya jujur aja sih, kalau sekarang kita denger sepasang laki-laki perempuan tinggal bersama tanpa menikah dianggap semakin biasa.

Aa_online: Padahal dulu enggak

f_rachmanto: Ya , dulu nya itu tabu.

Aa_online: Demikian pula poligami

f_rachmanto Halahh? beloknya jago bener :)

Aa_online: Hehehe bukan begitu. Ini kenyataan. Coba kita perhatikan dalam sejarah. Orang jaman dulu mempraktekkan poligami. Bahkan kalau tingkatannya raja atau bangsawan, istrinya bisa ratusan ?

f_rachmanto: Dulu dianggap biasa, sekarang dianggap tabu.

Aa_online: Betul

f_rachmanto: Itukan dulu Aa

Aa_online: Betul, maksud Aa cuma ingin kasih gambaran bahwa pandangan masyarakat bisa berubah.

f_rachmanto: Tapi Aa, kenapa kita selalu melupakan konteks “adil” dalam ketentuan berpoligami.

f_rachmanto: Maksud saya, kalau istri pertama sampai merasa tidak ridha saja kan sudah tidak adil. Saya pernah baca sih, ada beberapa istri yang dari awal ikhlas suami nya menikah lagi, bahkan membantu mencarikan istri baru. Tapi kan angkanya sangat sedikit. Artinya, poligami baru bisa dilaksanakan dalam kondisi yang hampir mustahil.

Aa_online: Tapi mungkin

f_rachmanto: Ya ?

Aa_online: Apa tidak mungkin ada istri yang ikhlas suaminya menikah lagi karena sesuatu hal, katakan yang sifatnya darurat?

f_rachmanto: Ya mungkin saja, tapi kecil ?

Aa_online: Tetap saja mungkin.

Aa_online: Dan hukum agama dimaksudkan untuk memberi jalan keluar bagi hal yang mungkin tadi.

f_rachmanto: OK Aa, saya tidak pernah mempertanyakan legalitas berpoligami. Tertulis dalam teks dengan sangat jelas itu diperbolehkan.

f_rachmanto: Tapi bukankah sesuatu yang boleh belum tentu baik.

Aa_online: Misalnya ?

f_rachmanto: Misalnya saya membeli mobil mewah sementara saudara-saudara saya ada yang putus sekolah karena kurang biaya, terjepit hutang, atau bahkan kelaparan.

f_rachmanto: Beli mobil pake uang saya sendiri, halal, ya boleh dong. Tapi tidak baik saya lakukan karena akan menyakiti hati saudara-saudara saya ?

Aa_online: Membeli mobil tadi “tidak baik” ukuran nya apa? Dibandingkan dengan apa?

f_rachmanto: Dibanding dengan misalnya menyedekahkan uang saya tadi ?

Aa_online: Setuju. Nah, kalau dibanding dengan menggunakan uang tadi untuk berjudi di kasino?

f_rachmanto: Ya lebih baik beli mobil.

Aa_online: Sangat relatif ya?

f_rachmanto: Hmm ? ya.

Aa_online: Jadi itu semua akan sangat subyektif, dan sangat tergantung konteks. Tidak bisa dihakimi secara hitam-putih begitu saja. Dari satu kasus dengan kasus lain akan berbeda.

Aa_online: Poligami itu seperti pintu darurat di sebuah pesawat. Boleh digunakan, kalau memang keadaan mengharuskan. Tapi juga jangan digunakan kalau pesawatnya baik-baik saja. Jadi harus tahu ilmunya.

f_rachmanto: Hehehe? Memang pernikahan Aa sama Teteh tidak baik2 saja ya?

Aa_online: Tuh kan? Kalo ini mah jadi ngegosip?

f_rachmanto: Iya sori Aa, becanda. Thanks penjelasannya.

f_rachmanto: Btw, ini lagi online di Daarut Tauhid ya A?

Aa_online: Lha koq Daarut Tauhid?

f_rachmanto: Lho? Ini Aa Gym kan?

Aa_online: Aduh Ji! Ini mah saya atuh, Aa Dadang, temen kerja kamu dulu?

f_rachmanto: Astaghfirullah? Kirain dari tadi teh Aa Gym?

by ketawa.com


Tuan Tolong Botolnya Ditutup Kembali

Oktober 1, 2006

Seorang pengusaha yang menghabiskan akhir pekannya dengan memancing pakai perahu di sebuah danau, menemukan sebuah botol yang terapung dan tertutup rapi yang segera dihampiri dan diambil oleh sang pengusaha.

Penasaran…, si pengusaha membuka tutup botol, lalu tiba-tiba dari dalam botol keluar asap yang selanjutnya menebal dan mejadi Jin raksasa yang mengambang di depan si pengusaha.

“Terimakasih tuan, tuan telah membebaskan saya, untuk ini tuan silahkan meminta tiga permintaan, saya akan mengabulkannya” kata Jin, seperti format biasa tanda terimakasih Jin yang dibebaskan oleh manusia.

Setelah kagetnya reda, si pengusaha itu terdiam sejenak lalu dia berkata, “Baiklah Jin saya ingin tahun ini tiga kejadian besar terjadi di negeri saya Indonesia ini, pertama saya ingin nilai tukar rupiah di negeri saya ini kembali menjadi Rp. 2500 per 1 dollar US nya, kedua saya mau semua uang hasil korupsi baik oleh swasta ataupun pejabat pemerintah dikembalikan kepada rakyat dan semua pelakunya dipenjarakan, ketiga saya ingin hukum benar-benar bisa ditegakkan di negeri saya ini.”

Sang Jin berpikir sejenak kemudian, menggeleng-gelengkan kepala, pelan-pelan jasadnya kembali menjadi asap lalu berkumpul masuk kedalam botol itu kembali. Dari dalam botol si Jin berseru,

“Tuan, tolong botolnya ditutup kembali…!!!!!.”

by ketawa.com


acer aspire e500, linpus dan windows xP pRO sp2

September 19, 2006

gak ada apa apa sih…hanya aku menemukan keajaiban di saat aku install OS di Acer Aspire e500 nya temen aku.

Bukan apa-apa sih, aku gak anti linux…cuma gak ada waktu aja to learn it. padahal sih, gak bagus ya buat orang IT yang hanya berkecimpung di dunia windows dan aplikasi yang hanya jalan di windows…tapi aku berharap ada sisi lain yang bisa dipelajari dari kejadian kemaren…

install hardisk sata di motherboard yang mendukung sata, sebenarnya da biasa. buat bapak2/ibu yang “numpang” di installin windows xp,office dan games nya kantor. tapi pas kemaren,rekan satu kantor dapat ‘hibah’ acer aspire e500…saat itu dunia bener2 tidak berteman dengan aku. 2 hari install xp gak jadi2 !…

bayangin aja..2 hari tanpa hasil. hardisk linux da diformat pake Gdisk tetep gak bisa dikenalin sama XP. padahal kalo diinstall ulang dengan windows 98, hardisknya keliatan. dan harusnya sih mau. karena format pake fat32 yang gimana2 pasti sama XP nanti bisa di convert jadi NTFS. sampai akhirnya, komputer itu aku taruh di depan mejaku. aku liatin. aku bongkar, aku liatin lagi, do same thing lagi dengan sebelumnya yang hasilnya..ya itu itu saja…NIHIL !…even da di format dengan seagate seatools yang memakan waktu 4 jam !…bayangin nothing 2 do selama 4 jam…

setengah 2 pagi, sebenarnya mau tidur, mau nerusin besok aja. tapi tetep aja kayak orang mabuk. hanya sesaat. kalo bangun, pasti masalah install itu bakalan ketemu lagi…akhirnya sholat insya dan sholat malem..memohon bantuan-Nya..lucu juga kalo inget permintaan pas sholat malem itu…. eh gak tahunya, begitu selesai sholat dan doa, duduk manis di depan komputer, install ulang xp dengan autorun nya…tekan F6 waktu ada tawaran install third party like scsi,sata or raid..(selama 2 hari aku cuekin masalah ini)..dan aku siapin disket booting dos 6.22 + sata…akhirnya pecah juga bisul itu…he2x…

aku pingin ketawa dan nangis kalo inget hardisk sata itu bisa ‘dilihat’ sama windows xp..ketawa karena pecah sudah masalah dan bisa teratasi dengan sukses…pingin nangis karena kebodohan yang seharusnya 2 hari lalu bisa teratasi….

thanks god 4 help me….amazing!…


Kepasrahan Hidup

Agustus 23, 2006

Pasrah. Itulah potret kita di negeri ini. Kepasrahan dihampir berbagai aspek kehidupan. Mau harga kebutuhan pokok pada naik, pasrah aja. Mau BBM naik, pasrah aja. Mau naik kereta api yang datangnya terlambat, pasrah aja. Mau naik haji dengan biaya mahal, pasrah aja. Mau biaya pendidikan dari playgroup pada naik, pasrah aja. Mau naik bajaj trus supir bajajnya ngebut, pasrah aja hehe..Coba sebut hal lain yang mengkodisikan kita pada kepasrahan. Hampir tiap hari kayaknya kita alami. Malah kita sudah dikategorikan ke dalam konsumen pasrah, kata temenku di suatu organisasi konsumen.

Kali ini sikap pasrah terjadi pada saudara2 kita di Desa Siring, Kabupaten Sidoarjo. Lebih dari dua bulan segala aktivitas warga pun berhenti. Puncaknya (kalau bisa dikatakan klimaks) yaitu tanggul penahan lumpur jebol. Tanggul tidak bisa lagi menahan “gempuran” lumpur panas yang terus mengalir dan memadati sisi tanggul. Menurut berita di surat kabar, sekitar 5680 warga diungsikan. Segala aspek kehidupan pun terenggut sudah dengan kejadian ini. Ada eksportir yang merugi akibat tertundanya pengiriman barang karena penutupan tol. Ada penjahit yang kehilangan order. Ada supir angkutan umum yang terpaksa mencari alternatif jalan memutar sehingga boros bahan bakar. Bahkan banyak keluarga di pengungsian yang terpaksa kehidupan rumah tangganya runyam akibat tidak terpenuhinya kebutuhan biologis (meski disediakan tempat berupa kamar, tp kebayang kan kasurnya dipake berapa pasangan keluarga), dan terbakar cemburu karena pasangannya terindikasi selingkuh dengan tetangganya (Tempo, Agst 05). Menangiskah mereka dengan semua keadaan ini? Mungkin air mata udh gak ada artinya lagi. Kepasrahanlah yang menyelimuti mereka. Di Kompas gw baca salah seorang warga malah sempat menyanyi lagu D’lloyd,”oh tak mungkin, tak mungkin aku kembali…” ketika dievakuasi dengan truk milik Kodim Sidoarjo pas tanggul penahan lumpur itu jebol.

Hal itu mengingatkan gw pada kejadian yang agak sama ketika gw pernah pulang pakai KRL perjalanan dari Gondangdia ke Kalibata. Saking penuhnya pas jam pulang kerja, sampai2 muka kita itu hampir bersentuhan dengan muka orang lain. Saling pandang. Saling membaui keringat sepulang kerja. Posisi berdiri pun tidak di dua kaki lurus ke bawah, melainkan disilangkan, saking sempitnya, persis peragawati ketika berhenti melakukan pose di catwalk. Anehnya, kayaknya gak ada satu orang pun yang bersedih di KRL itu. Malah ada yang nyanyi2, ketawa, “bergembira,” menertawakan kehidupan manusia Jakarta yang harus pasrah dengan kondisi transportasi massalnya. “yaaa begini ini bu, dasar nasib..”, kata orang-orang disitu. Jeleknya, sikap pasrah orang2 di negeri ini seringkali tidak dijadikan oleh penguasa negeri untuk memperbaiki diri. Ujung-ujungnya dari tahun ke tahun minim peningkatan baik untuk pengadaan fasilitas bagi warga negara, maupun kebijakan2 standar yang diambil.

Btw, pas naik KRL itu gw akhirnya malah turun di pasar minggu, karena gak bisa turun pas di kalibata, itu pun sambil bawa tas di atas kepala dan didorong sama orang biar bisa keluar..hehehe..

Urusan pekerjaan juga bisa menggambarkan potret kepasrahan diri. Bekerja sesuai hobby itu mungkin jadi cita-cita orang. Tapi bekerja karena kebutuhan hidup? Itu lain soal. Kali ini, gw pasrah dengan segala macam urusan birokrasi yang sebetulnya dari dulu gak mau terlibat. Lebih mempersoalkan hal teknis dan pakem birokrasi. Pasrah untuk apel pagi jam 7.30. Pasrah dengan baju seragam yang harus selalu dipakai, kecuali hari jumat bisa rada gaya sedikit, pake batik. Pasrah untuk tidak banyak bicara karena takut dicap orang baru sok pintar. Pasrah melihat anggota dewan berbicara masalah serius menyangkut hajat hidup orang banyak sambil merokok di ruangan AC dan kita terpaksa menghirup kepulan asap yang keluar dari mulutnya. Pasrah untuk waktu-waktu tertentu disuruh rapat lagi sesudah maghrib karena pembahasan peraturan daerah belum selesai. Pasrah untuk pulang jam setengah empat sore…eh eh itu mah gak pasrah ya hahahah…paling seneng itu mah, biar bisa mandiin Rayya dan nyuapin makan sore.

Untuk awal-awal bekerja rasanya udah pengen deh ambil pensiun dini haha..baru juga…tapi yaa..kendala kayak gitu seharusnya bukan jadi halangan. Setelah dua minggu mempelajari “medan” gw akhirnya mulai mengharmonisasikan dengan ritme kerja. Apel pagi tidak dipandang sebagai beban, anggap aja jadi ajang disiplin diri meskipun kadang orang2 lama udh males untuk apel. Pakai seragam tidak dipandang sebagai suatu beban juga. Alhamdulillah gak usah ganti2 baju dan mikir pake baju apa hari ini?. Dan hal-hal lain yang awalnya gw pandang sebagai beban menjadi kita lebih banyak belajar. Di setiap tempat kerja pasti ada konflik. Tinggal kitanya aja menyikapinya gimana. Mau larut mikirin hal2 yang gak penting atau cuek aja pake “kacamata kuda”. Cita-cita awal yang gak sesuai rencana, gw pandang dengan harapan bahwa di tempat baru harus lebih baik lagi.

Kita gak pernah bisa minta sama Allah SWT untuk terlahir dan dikeluarkan dari rahim yang mana. Rahim seorang ibu dari warga sidoarjo, warga bandung, warga ciamis, warga soreang, warga amerika, warga India, gak tau yang mana. Namun, ketika besar dan pilihan hidup sudah diambil, jalur itulah yang harus dijalani. Konsekuensi dari hidup itu lah yang harus diselaraskan dan diharmonisasikan biar jatuh-jatuhnya gak stress, depresi, dan menyesali hidup. Semua sudah diatur Allah SWT. Sikap pasrah biarlah hanya menjadi bumbu satire kehidupan.

 

taken from http://nuruldiana.blogspot.com/


Nadine Kelinci Percobaan

Agustus 10, 2006

WARTA KOTA, KAMIS– by kompas.co.id 10-08-2006

Kekalahan Puteri Indonesia 2005 Nadine Chandrawinata (22) di perhelatan Miss Universe 2006 terus menjadi perbincangan. Sebagian masyarakat seakan menyalahkan Nadine, karena wajah bule-nya ternyata tak menjamin dia jago berbahasa Inggris.Tapi, aktris dan aktivis politik Nurul Arifin tak sependapat. Istri Mayong Suryolaksono ini melihat Nadine tak lebih adalah kelinci percobaan, jadi tak bisa disalahkan.

“Saya melihat, ada unsur uji coba di sini (ajang Puteri Indonesia 2005 –Red). Wajah indo dimenangkan, mungkin dengan maksud menuruti selera ’pasar’. Tapi ternyata, muka western nggak ngaruh,” ucap Nurul usai berbicara di talk show “Mempertahankan Citra Puteri Indonesia di Ajang Miss Universe” di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (9/8).

Selain Nurul, pembicara lainnya adalah Artika Sari Devi dan Eros Djarot. Acara digelar oleh Power PR Christovita Wiloto & Co. Sayang, Nadine tidak hadir dalam acara tersebut.

Dalam kesempatan itu Nurul juga menuturkan apa yang dialami suaminya. “Mayong yang sudah lama mengikuti Miss Universe sedih karena Nadine enggak masuk 20 besar. Dia mengira, Nadine bisa lolos ke Top 20,” katanya.

Saat talk show, Nurul sempat menyatakan penyesalannya. “Mestinya, Puteri Indonesia yang ke sana (ke Miss Universe–Red) membawa nilai-nilai lokal agar ada peluang untuk bernegosiasi. Contoh, soal busana renang bisa minta tak pakai bikini. Tapi, ini kan tidak dilakukan. Bukannya saya iri. Yang disesalkan, Nadine terlalu indo. Mestinya, Puteri Indonesia kan memperlihatkan eksotika Timur,” katanya.

Nurul mencontohkan wajah-wajah khas Indonesia, dari Artika, Anggun, sampai Yenni Rachman. “Itu wajah lokal. Saya aja masih ada darah Belanda. Lihat Miss Japan yang jadi runner up I, dia ada di area global, tanpa meninggalkan budaya lokal, masih pakai hormat dengan membungkuk khas orang Jepang. Dia tak pura-pura kebarat-baratan, meski belajar salsa juga,” katanya.

Anggota Partai Golkar ini melanjutkan, “Saya kasihan sama Nadine karena mau nggak mau menanggung malu. Kita kalau mau mengirim orang, lihat-lihat dulu. Bahasa Inggris kenyataannya bukan bahasa kedua, karena di negara kita, bahasa kedua adalah bahasa daerah. Jadi, berhentilah ngata-ngatain Nadine. Kalau dia nggak cukup baik bahasa Inggrisnya, mestinya kan didampingi penerjemah.”

Eros Djarot tidak melihat ada yang salah dalam pengiriman Nadine. “Indo atau tidak, Indonesia realitanya sekarang seperti itu (banyak darah campuran atau blaster — Red). Muka Indonesia tapi kalau kelakuannya jelek, buang sampah sembarangan, percuma juga. Yang penting, citra perempuan Indonesia ada padanya,” ujarnya.

Soal kemampuan berbahasa juga tak perlu dipersoalkan. “Nggak usah malu nggak bisa bahasa Inggris. Yang penting, kepribadian dia sebagai bangsa Indonesia terlihat nggak? Tak kalah penting, Nadine pergi, enggak ada devisa yang berkurang dan enggak ada bom meledak,” imbuh Eros.

Artika juga angkat bicara. Dari pengalamannya di ajang Miss Universe 2005, banyak finalis yang tak mampu berbahasa Inggris. “Miss Japan 2005 sama sekali tak bisa bahasa Inggris, karena itu bukan prioritas utama. Baginya, itu bukan kendala untuk berkomunikasi dengan sesama finalis. Bahasa Inggris hanya menyempurnakan. Saya malah salut pada usaha Nadine untuk belajar. Bahkan saat berangkat, dia sudah yakin dengan kemampuannya berbahasa Inggris,” ucap Artika yang kini terjun ke dunia film dengan membintangi Opera Jawa garapan Garin Nugroho.

Nurul malah menganggap keragaman bahasa yang muncul di Miss Universe adalah keindahan. “Mereka disatukan oleh bahasa hati, bukan verbal. Ketika para finalis bicara dengan bahasanya sendiri-sendiri, itu malah memperkaya dan jadi keindahan tersendiri di kuping saya,” ujarnya. (yus)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.